Minggu, 02 Februari 2020

#Opiniku Eps.1 “ANTARA DIRIMU DAN CIRCLE PERGAULANMU”



“ANTARA DIRIMU DAN CIRCLE PERGAULANMU”
by : Annisa Komala Sari

Pict by : Google.com


Halo semua! Nama gua Annisa Komala (lebih lengkapnya ada di introduction). Jadi, di tulisan pertama ini gua mau bahas tentang pengaruh circle pergaulan karena akhir-akhir ini lagi concern banget bahas ini di sosial media berdasarkan pengalaman hidup pribadi gua. Kalian semua pasti pernah denger pepatah “Hati-hati lah dalam memilih teman, karena temanmu perlahan namun pasti akan mengubahmu” yang tertuang dalam Hadits “Permisalan teman yang baik dan buruk ibarat kamu berteman dengan penjual minyak wangi, maka kamu akan terkena wangi nya, begitupun jika kamu berteman dengan pandai besi maka kamu akan terkena percikan apinya atau mendapatkan bau asap yang tak sedap“ (H.R Bukhori-Muslim)
Dari hadits dan pepatah di atas, gua sangat-sangat merasakan bahwa hal itu BENAR dan ASLI adanya. Kenapa gua menyatakan demikian? karena memang dengan berteman nya kita dengan orang lain, baik secara dekat/tidak, sering/tidak sering ngumpul lama kelamaan akan membentuk diri kita. Dari dulu, orang-orang terdekat gua selalu nasehatin “pilih-pilihlah dalam berteman, jangan sampai terwarnai, kalau bisa mewarnai” alhasil nasehat ini selalu gua tanamkan dalam benak gua.
Jadi sedikit cerita, dulu waktu SMA gua dengan background “anak ROHIS” alhamdulillahnya berteman dekat dengan background yang sama, yang membuat gua gak terlalu susah untuk adaptasi karena rata-rata kita punya sudut pandang yang sama tentang kehidupan bahkan lebih dari itu, kita membahas tentang kehidupan setelahnya yaitu kematian. Nah, pas masuk kuliah ternyata orang-orangnya sangat beragam dengan sudut pandang dan pola pikir yang berbeda. Awalnya memang belum terlalu berdampak dalam hidup gua, karena gua tipikal orang yang mencoba “start the conversation first” kalau ketemu orang baru (yang sekiranya keliatan enak kalo diajak bicara) jadi Alhamdulillah bisa berteman dengan siapa aja. Ditambah lagi gua masuk organisasi kampus (Dewan Perwakilan Mahasiswa) dan organisasi nasional (IKAMAGI) yang mengharuskan gua harus bisa berinteraksi sama siapa aja. Tapi, semakin kesini timbul-lah keresahan gua tentang pertemanan. Berikut keresahan gua “emang ada ya temen yang tulus?”, “emang circle pertemanan seperti apa yang sehat?” “seberapa pentingnya sih temen itu?”  “kenapa disaat gua susah kok gaada sih teman-teman gua?:(“ “perasaan temen gua banyak deh, tapi kok gaada 1 pun yang nemenin?” dan hal-hal random lain yang muncul di otak gua dan mungkin diantara kalian ada yang ngerasin hal yang sama.
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari sebuah pemikiran yang skeptis tentang pertemanan. Seiring berjalannya waktu, semakin gua sadari pemikiran itu lahir sebagai dampak “dengan siapa kita berteman, dan seberapa jauh kita memaknai arti pertemanan” karena, pertemanan sedikit demi sedikit mempengaruhi pemikiran kita. Hal ini juga beriringan dengan bertambah dewasanya seseorang. Gua yang awalnya gak terlalu ambil pusing dengan segala permasalahan pertemanan akhirnya bisa menjawab sendiri keresahan di atas dan berfikiran bahwa “yaudahlah gapapa gaada temen juga kan masih bisa handle sendiri dan masih ada Allah” semakin kesini makin memaknai pentingnya pertemanan. Pentingnya memahami orang lain dan melakukan kebaikan secara bersama-sama dibandingkan sendiri. Tulisan gua ini bukan berarti membatasi kita untuk berteman. Bertemanlah dengan siapa saja karena itu akan menambah sudut pandang baru dan membuat kamu paham tentang karakter orang yang berbeda-beda. Namun, bersahabatlah dengan orang yang benar-benar 1 frekuensi denganmu karenanya akan memudahkanmu dalam menjalani hidup. Namun, saran dari gua sebelum masuk ke dunia pertemanan yang benar-benar berbeda kuatin dulu pondasi keimanan kita. Jangan sampai kita terwarnai, apalagi masalah agama (it’s not racist statement). Karena, bukankah lebih nikmat memiliki teman yang bisa diajak ketawa sampai susah bareng bahkan memang tujuan pertemanan itu untuk saling memperbaiki dan mencapai ridho&surga-Nya?
So, sekian aja yang bisa gua sampein di #Opiniku gua cuma mau  menyampaikan aja apa-apa yang gua tulis di atas belum tentu benar dan gak berniat menggurui. Gua cuma bisa sharing apa yang gua alamin berdasarkan pengalaman. Bcs, Sharing is Caring. Sok atuh, kalau ada yang ngerasa hal yang sama atau mau ngasih kritik&saran bisa komen di bawah atau diskusi ngopi bareng kita. Terima kasih yang sudah membaca dan mohon maaf kalau ada salah-salah kata. #SharingIsCaring #Let'sPositiveVibes #SpreadKindness


Feel free to get to know each other by discuss about everything and follow my social media🔽:

IG : annisakmlsr
Twitter : annisakml21
Line : annisakmlsr


20 komentar:

  1. Scr garis besarnya udh di bilang sm ika upeh. Mungkin circle pertemanan orng dewasa semakin sulit untuk diwujudkan di banding kita msh kecil dlu. Inget bgt dlu jaman sd sampe smp yg namanya tmn itu solid bgt bahkan smpe ke kamar mandi aja di temenin, dan emng banyak yg bilang eh nnt klw lu besar ga ada tau yg namanya ke kamar mandi di tmnin. Itu sekedar istilag yg kerasa smpe skrng. Mksdnya klw di realisasikan kehidupan orng dewasa makin lama makin ke arah keindividualis yg gua rasain ya dan gua sbenernya kesel sm hal itu. Yg gua rasain jga banyak orng sibuk dngn kesibukannya dan akhirnya lupa dgn kehadiran percirclean tmn lama mrka. Ya kembali lagi yg td ika bilang mungkin kita terlalu berharap sm manusia, yg sebernernya tempat kita berharap ya cuman ke Allah. Ya klw kita kecewa sm seseorng karna sikapnya mungkin sebagian besar salahnya ada di kita. Gua jga setuju dlm lingkup pertemanan sebaiknya kita yang mewarnai lingkaran itu dengan kebaikan di liqoan selalubdi ingetin kek gt.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah iya tp lupita kalo ika&upeh ga komen disini ewkwk. Setuju jg yg penting emg pondasi iman. Makasih udah baca jah:)

      Hapus
  2. Lanjut terus ya kom nulisnyaaa...

    BalasHapus
  3. Asik, berteman emang gaboleh milih2, tapi kalau membuat kamu makin buruk ya kamu berhak buat meninggalkan lingkungan pertemanan itu loh kom... Ditunggu tulisan selanjutnya chinguku��

    BalasHapus
  4. Iyaa bener bangett kom. Banyak yang berpendapat juga semakin dewasa, semakin kita bisa liat mana yang baik untuk kita maupun yang buruk, terutama soal pertemanan. Pertama kuatin iman dulu. Karna kalo kita di lingkungan yang toxic dan malah buat kita "terwarnai", yaa takutnya gakuat handle nya jadinya bikin diri kita toxic juga. Pokoknya stay posive dehh
    Ditunggu eps. Selanjutnyaaa

    BalasHapus
  5. Intinya jangan memandang sebelah mata, msh ada yg berusaha untuk menjadi sahabat sebenarnya walaupun, kamu tidak menyadari nya, mantab Kom lanjut kan. I ALWAYS BEHIND YOU.

    BalasHapus
  6. sukakkkkk deh sm tulisannya! btw, jd keinget diskusi dipetakan Bandung wkwkwkwk

    BalasHapus
  7. Mantuel, nunggu tulisan kokom selanjutnya nihh^^

    BalasHapus

Pada akhirnya, hidup akan terus berjalan kan?

Suatu malam di sudut kafe, seorang perempuan yang sudah lama tidak membuka blog usang miliknya ini pun akhirnya memutuskan untuk menulis kem...