“ANTARA DIRIMU DAN CIRCLE PERGAULANMU”
Halo semua! Nama gua Annisa Komala (lebih
lengkapnya ada di introduction). Jadi, di tulisan pertama ini gua mau bahas tentang pengaruh circle pergaulan karena akhir-akhir ini lagi concern
banget bahas ini di sosial media berdasarkan pengalaman hidup pribadi gua. Kalian semua pasti pernah denger pepatah “Hati-hati lah dalam memilih teman,
karena temanmu perlahan namun pasti akan mengubahmu” yang tertuang dalam Hadits
“Permisalan teman yang baik dan buruk ibarat kamu berteman dengan penjual
minyak wangi, maka kamu akan terkena wangi nya, begitupun jika kamu berteman
dengan pandai besi maka kamu akan terkena percikan apinya atau mendapatkan bau
asap yang tak sedap“ (H.R Bukhori-Muslim)
Dari hadits dan pepatah di atas, gua
sangat-sangat merasakan bahwa hal itu BENAR dan ASLI adanya. Kenapa gua
menyatakan demikian? karena memang dengan berteman nya kita dengan orang lain,
baik secara dekat/tidak, sering/tidak sering ngumpul lama kelamaan akan
membentuk diri kita. Dari dulu, orang-orang terdekat gua selalu nasehatin
“pilih-pilihlah dalam berteman, jangan sampai terwarnai, kalau bisa mewarnai”
alhasil nasehat ini selalu gua tanamkan dalam benak gua.
Jadi sedikit cerita, dulu waktu SMA gua dengan
background “anak ROHIS” alhamdulillahnya berteman dekat dengan background yang
sama, yang membuat gua gak terlalu susah untuk adaptasi karena rata-rata kita
punya sudut pandang yang sama tentang kehidupan bahkan lebih dari itu, kita
membahas tentang kehidupan setelahnya yaitu kematian. Nah, pas masuk kuliah
ternyata orang-orangnya sangat beragam dengan sudut pandang dan pola pikir yang
berbeda. Awalnya memang belum terlalu berdampak dalam hidup gua, karena gua
tipikal orang yang mencoba “start the conversation first” kalau
ketemu orang baru (yang sekiranya keliatan enak kalo diajak bicara) jadi
Alhamdulillah bisa berteman dengan siapa aja. Ditambah lagi gua masuk
organisasi kampus (Dewan Perwakilan Mahasiswa) dan organisasi nasional
(IKAMAGI) yang mengharuskan gua harus bisa berinteraksi sama siapa aja. Tapi,
semakin kesini timbul-lah keresahan gua tentang pertemanan. Berikut keresahan
gua “emang ada ya temen yang tulus?”, “emang circle pertemanan seperti apa yang
sehat?” “seberapa pentingnya sih temen itu?” “kenapa disaat gua
susah kok gaada sih teman-teman gua?:(“ “perasaan temen gua banyak deh, tapi
kok gaada 1 pun yang nemenin?” dan hal-hal random lain yang muncul di otak gua
dan mungkin diantara kalian ada yang ngerasin hal yang sama.
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari sebuah
pemikiran yang skeptis tentang pertemanan. Seiring berjalannya waktu, semakin
gua sadari pemikiran itu lahir sebagai dampak “dengan siapa kita berteman, dan
seberapa jauh kita memaknai arti pertemanan” karena, pertemanan sedikit demi
sedikit mempengaruhi pemikiran kita. Hal ini juga beriringan dengan bertambah
dewasanya seseorang. Gua yang awalnya gak terlalu ambil pusing dengan segala
permasalahan pertemanan akhirnya bisa menjawab sendiri keresahan di atas dan
berfikiran bahwa “yaudahlah gapapa gaada temen juga kan masih bisa handle
sendiri dan masih ada Allah” semakin kesini makin memaknai pentingnya
pertemanan. Pentingnya memahami orang lain dan melakukan kebaikan secara
bersama-sama dibandingkan sendiri. Tulisan gua ini bukan berarti membatasi kita
untuk berteman. Bertemanlah dengan siapa saja karena itu akan menambah sudut
pandang baru dan membuat kamu paham tentang karakter orang yang berbeda-beda.
Namun, bersahabatlah dengan orang yang benar-benar 1 frekuensi denganmu
karenanya akan memudahkanmu dalam menjalani hidup. Namun, saran dari gua
sebelum masuk ke dunia pertemanan yang benar-benar berbeda kuatin dulu pondasi
keimanan kita. Jangan sampai kita terwarnai, apalagi masalah agama (it’s not
racist statement). Karena, bukankah lebih nikmat memiliki teman yang bisa
diajak ketawa sampai susah bareng bahkan memang tujuan pertemanan itu untuk saling memperbaiki dan mencapai ridho&surga-Nya?
So, sekian aja yang bisa gua sampein di #Opiniku
gua cuma mau menyampaikan aja apa-apa yang gua tulis di atas belum
tentu benar dan gak berniat menggurui. Gua cuma bisa sharing apa yang gua
alamin berdasarkan pengalaman. Bcs, Sharing is Caring. Sok atuh, kalau ada yang
ngerasa hal yang sama atau mau ngasih kritik&saran bisa komen di bawah atau
diskusi ngopi bareng kita. Terima kasih yang sudah membaca dan mohon maaf kalau
ada salah-salah kata. #SharingIsCaring #Let'sPositiveVibes #SpreadKindness
Feel free to get to know
each other by discuss about everything and follow my social media🔽:
IG : annisakmlsr
Twitter : annisakml21
Line : annisakmlsr

Sip
BalasHapusMakasih udah baca bang!
HapusScr garis besarnya udh di bilang sm ika upeh. Mungkin circle pertemanan orng dewasa semakin sulit untuk diwujudkan di banding kita msh kecil dlu. Inget bgt dlu jaman sd sampe smp yg namanya tmn itu solid bgt bahkan smpe ke kamar mandi aja di temenin, dan emng banyak yg bilang eh nnt klw lu besar ga ada tau yg namanya ke kamar mandi di tmnin. Itu sekedar istilag yg kerasa smpe skrng. Mksdnya klw di realisasikan kehidupan orng dewasa makin lama makin ke arah keindividualis yg gua rasain ya dan gua sbenernya kesel sm hal itu. Yg gua rasain jga banyak orng sibuk dngn kesibukannya dan akhirnya lupa dgn kehadiran percirclean tmn lama mrka. Ya kembali lagi yg td ika bilang mungkin kita terlalu berharap sm manusia, yg sebernernya tempat kita berharap ya cuman ke Allah. Ya klw kita kecewa sm seseorng karna sikapnya mungkin sebagian besar salahnya ada di kita. Gua jga setuju dlm lingkup pertemanan sebaiknya kita yang mewarnai lingkaran itu dengan kebaikan di liqoan selalubdi ingetin kek gt.
BalasHapusHahah iya tp lupita kalo ika&upeh ga komen disini ewkwk. Setuju jg yg penting emg pondasi iman. Makasih udah baca jah:)
HapusLanjut terus ya kom nulisnyaaa...
BalasHapusInsyaAllah jah
HapusAsik, berteman emang gaboleh milih2, tapi kalau membuat kamu makin buruk ya kamu berhak buat meninggalkan lingkungan pertemanan itu loh kom... Ditunggu tulisan selanjutnya chinguku��
BalasHapusSetuju deh sama kamu, makasih udh mampir sal;)
HapusSukaakk tulisannya❤️
BalasHapusIhiw makasih udah mampir er:)
HapusMantul Kom ��
BalasHapusU too rizka, makasih udh mampir yaa:)
HapusIyaa bener bangett kom. Banyak yang berpendapat juga semakin dewasa, semakin kita bisa liat mana yang baik untuk kita maupun yang buruk, terutama soal pertemanan. Pertama kuatin iman dulu. Karna kalo kita di lingkungan yang toxic dan malah buat kita "terwarnai", yaa takutnya gakuat handle nya jadinya bikin diri kita toxic juga. Pokoknya stay posive dehh
BalasHapusDitunggu eps. Selanjutnyaaa
Setuju juga deh sama kamu. Makasih udah baca!!:)
HapusIntinya jangan memandang sebelah mata, msh ada yg berusaha untuk menjadi sahabat sebenarnya walaupun, kamu tidak menyadari nya, mantab Kom lanjut kan. I ALWAYS BEHIND YOU.
BalasHapusMantap pak haji! makasih udh mampir:)
Hapussukakkkkk deh sm tulisannya! btw, jd keinget diskusi dipetakan Bandung wkwkwkwk
BalasHapusWaa makasih teh, ayok pankapan lagi!!!
HapusMantuel, nunggu tulisan kokom selanjutnya nihh^^
BalasHapusIhiw siap Arie!!
Hapus